Selasa, 22 Oktober 2013

Loss Prevention

Tour Multimart 2013 Loss Prevention

Women Is....?

Women is….?
Ketika Tuhan menciptakan Wanita, Dia lembur pada hari keenam.
Malaikat datang dan bertanya, “Mengapa begitu lama Tuhan?”
“Sudahkah engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”
“Dua tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastic. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan mampu menjaga banyak anak saat bersamaan. Punya pelukkan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukkan…, dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini.”
          Malaikat itu takjub….
“Hanya dengan dua tangan?... imposible!”
Dan itu model standard?!
“Sudahlah Tuhan, cukup dulu unutuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya”.
“Oh…Tidak, saya akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit saya”.
“Oh yah dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”.
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan Tuhan itu.
“Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?”.
“Yah… Saya membuatnya begitu lembut. Tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang Saya berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa”.
“Dia bisa berpikir?”, Tanya Malaikat.
Tuhan menjawab :
“Tidak hanya berpikir, dia mapu bernegosiasi”.
“Tuhan , Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh ! seolah terlalu banyak beban baginya”.
“Itu bukan lelah atau rapuh… itu air matanya”. Koereksi Tuhan.
“Untuk apa?”, Tanya Malaikat
Tuhan melanjutkan :
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggan”.
“Luar biasa, Engkau jenius Tuhan”, kata Malaikat.
“Engkau memikirkan segalah sesuatunya, wanita ciptaan-Mu ini akan sangat menakjubkan!”.
          “Yah…Mesti!”
“Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki”
“Dan mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri”.
“Dia mampu tersennyum bahkan saat hatinya menjerit”.
“Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
“Dia berkorban demi orang yang dicintainya, mampu berdiri melawan ketidakadilan”.
“Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik”.
“Dia menerunkan dirinya untuk keluarganya”.
“Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat”.
          “Cintanya Tanpa Syarat”
“Dia menangis saat melihat anaknya pemenang”
“”Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa”.
“Dia begitu bahagia mendengan kelahiran. Hatinya begitu sedih  mendengar berita sakit & kematian”.
“Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukkan dapat menyembuhkan luka”.
“Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita….
          Dia lupa, Betapa Berharganya Dia….”
EKARISTI ROSARIO PAAT  itu nama yang paling indah, yang di kasih sama papa. Dibalik nama yang indah itu ada cerita  yang sangat mengesankan bagi keluarga kami. Sebelum saya dilahirkan, mama saya mempunyai 2 orang anak laki-laki. Pertama, Fransisco Yakobus Paat dan yang kedua Bonny Patricio Paat. Orang tua saya berpikir cukup 2 anak saja, jadi mama menggunakan alat digital untuk mencegah mama mengandung lagi. Tapi itu hanya sia-sia, setelah beberapa lama kemudian mama merasakan hal yang aneh pada dirinya, Mama dan papa segera ke dokter untuk periksa alat pencegah kehamilan sekaligus kesehatan mama. Mereka kaget sekali stelah mendengar hasil dari dokter,kalo sebenarnya mama saya sudah mengandung. Saat itu juga papa saya ketakutan,papa saya takut jika suatu saat nanti bayinya lahir pasti akan sulit keluar karena masih ada alat yang tertanam didalam tubuhnya mama. Dokter juga mengatakan akan sulit, ada kemungkinan jika bayinya lahir bersamaan dengan alat pencegahnya itu pasti alatnya akan menempel dikulit bayi dan akan menimbulkan bekas nantinya yang ga bisa hilang.
            Selama 9 bulan berjalan papa ga putus2nya memanjatkan doa demi kelancaran persalinan mama dan demi kesehatan saya juga.Perayaan Ekaristi pada hari minggu dan Doa Rosario tak pernah papa tinggalkan. Saat waktunya mama melahirkan, mama langsung dilarikan keRs. Gunung Wenang Manado yang sekarang sudah direnovasi menjadi gedung Hotel Berbintang “Peninsula Hotel”. 
            Sayang, pada saat mama dilarikan ke Rs, papa tidak menemaninya karena papa sedang sibuk mengurus pertemuan MUDIKA pada awaktu itu,papa juga tidak tau yang mana mama akan dibawa ke rumah sakit saat itu. Setelah papa tahu beliau langsung datang kerumah sakit. Sampai disana papa langsung berdoa terus menerus sampai proses melahirkannya selesai. Betapa senangnya papa ketika mendengar dan melihat sendiri, alat pencegah kehamilan mama keluar lebih dulu sebelum bayinya keluar. Didalam benaknya papa, bayi yang akan keluar itu kemungkinan laki-laki soalnya didalam ruang bersalin ada sekitar 9 ibu-ibu yang melahirkan 8 diantaranya melahirkan seorang bayi laki-laki. Ternyata analisanya meleset, mama saya melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Tak piker panjang papa langsung memberikan sebuah nama yang indah yaitu “Ekaristi Rosario Paat” Beliau bersyukur karena Tuhan sudah mengabulkan permohonannya lewat Perantaraan Bunda Maria.
            Yang membantu proses melahirkan mama adalah seorang Biarawati dan seorang awam yang bisa dibilang dia itu keluarga kami. Biarawati itu sempat mengeluarkan kata-kata yang mengkagetkan mama serta papa saya. Katanya, “Bayi ini sangat cantik, gimana kalau dia besar nanti masuk biarawati saja..” orang tua saya tertawa sambil mengucapkan “ia kalau dia umur panjang dan jika Tuhan berkehendak yah Suster..”
            Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa saya sudah menginjakkan kaki di sekolah dasar.Tak terasa juga mamaku mengandung lagi. Diperkirakan tetangga, pasti mama saya bayinya kembar, karena kami juga punya keturunan kembar dari sebelah Papa. Perutnya juga semakin hari semakin besar.
            Detik2 dimana kelhiran adik saya datang papa bingung harus buat apa, mama terlanjur sakit perut  dijalan, tanpa berpikir panjang keluarga saya langsung mampir di kampung sebelah dirumahnya bidan yang pada waktu itu masih bekerja di rumah sakit. Disementara perjalan air ketubannya keluar, papa semakin bingung karena mereka belum sampai dirumahnya seorang bidan itu. Setelah mereka tiba, langfung bergegas memanggil bidan. Papa masih bingung karena sudah beberapa jam di dalam kamar bayinya belum-belum keluar.  Tak lama kemudian bidannya keluar dari kamar dan menyuruh papa untuk masuk mungkin jika papa ada disamping mama bayinya bisa keluar. Dan ternyata bidan itu betul, setelah papa berada disampingnya mama, bayinya keluar dengan lancar, haaa Puji Tuhan bayinya perempuan, lahir tepat jam 6 soreh pas Doa Angelus dimulai dan juga bertepatan dihari Minggu Palma. Papa langsung menamainya Angelus Palma. Betapa senangnya keluarga saya pada waktu itu.